Postingan

Selamat Jalan Soeria Lasny, Wartawan Senior Sulteng

Gambar
Belasungkawa atas wafatnya wartawan senior Sulawesi Tengah (Sulteng), Bapak Soeria Lasny di Palu, Sabtu (1/3/2014) dalam usia 80 tahun. Kabar duka itu aku terima dari Kak Erick Tamalagi, Pemimpin Umum   Metro Sulteng sekitar pukul 13.15 waktu Bandung.   Innalillahi wa innailahi rojiun. Pak Soeria sudah kembali keharibaan Ibu Pertiwi. Semoga amal ibadah dan kebaikan Pak Soeria –demikian aku memanggilnya,   diterima Allah SWT. Segala khilafnya diampuni Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran. Amin. Suri tauladan yang dicontohkannya telah menginspirasi banyak jurnalis di Sulteng. Pak Soeria adalah satu dari sekian wartawan senior di Palu yang memiliki karakter sangat kuat. Tatkala beliau pensiun di Suara Pembaharuan sekitar tahun1992, aku baru saja mulai menjadi wartawan magang di Harian Fajar biro Palu. Meskipun tidak begitu dekat dengannya, kami cukup saling mengenal. Dari beberapa karya jurnalistik dan buku yang ditulisnya aku dapat m

Seni Kaligrafi China, Lahir dari Cinta

Gambar
Tahun Baru Imlek 2654 ini, kaligrafi china atau dalam bahasa Mandarin di sebut Shu Fa menjadi tontonan yang menyita perhatian di Kota Bandung. Setidaknya, dalam memeriahkan perayaan Imlek 2654 di Kota Bandung, aktifitas komunitas Shu Fa di Bandung ini seolah membuka mata masyarakat kalau dalam budaya Tionghoa seni kaligrafi juga ada sama seperti dalam kebudayaan Islam dari Arab. Demo Shu Fa di Bandung, dimulai dari Riau Junction pada   21 Januari lalu, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Shu Fa yang panjangnya 30 meter pada 28 Januari, oleh dua seniman Shu Fa, Qiu An Zhao yang sudah berusia 83 tahun dan muridnya Huang Qiu Yun yang berusia 63 tahun.   Selang beberapa hari setelah   itu, yaitu pada Rabu (30/01/2013), alumni sekolah dasar Tionghoa di Bandung, Yi Hua juga menggelar demo Shu Fa dari Perkumpulan Shu Fa dan Lukis Tionghoa Indonesia yang dipimpin Soenanta Soemali. Para seniman kaligrafi yang usianya rata-rata diatas 60 menunjukan kemampuannya menggoreskan mao pi

Menikmati Kuliner Sulawesi di Bandung

Gambar
Menikmati kuliner khas Sunda, rajanya memang di Kota Bandung. Beragam makanan khas bertebaran di kota berjuluk Paris Van Java ini. Mulai yang berbahan dasar ayam, ikan, hingga bebek. Sangat mudah didapatkan. Selain makanan khas Sunda, tersaji juga menu western atau menu oriental di berbagai restoran hingga kedai kaki lima. Lalu bagaimana kalau orang Sulawesi kangen dengan makanan khas daerahnya? Tidak perlu khawatir. Karena di Bandung pun makanan khas Sulawesi bisa kita temui. Salah satunya, kita bisa datang ke Warung Rasa Sulawesi yang terletak di Kompleks Pondok Pesantren Daruut Tauhid dan Food Court 5Limamu, jalan Geger Kalong Girang Bandung. Kedua tempat makan ini dimiliki Rahmawati, warga asal Palu yang kini bermukim di Bandung sejak 10 tahun silam. Di temui di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan di Food Court 5 Limamu, Wati mengungkapkan kalau counternya di Food Court itu baru saja dibukannya. Sebelumnya, ia merintis di Kompleks Daruut Tauhid. Dua kali    ia jug

Bangun Kepercayaan Diri di Dunia Pendidikan

Gambar
Waktu hampir menunjukan pukul 10.00 WIB kala aku memarkirkan kendaraanya di parkiran SMK Negeri 9 Bandung di Jalan Soekarno Hatta Bandung.  Udara Bandung, Rabu (17/09/2012), cukup bersahabat. Pun saat melangkahkan kaki memasuki sekolah pariwisata terfavorit di Kota Bandung itu. Di sekolah ini ada tujuh program kompetensi keahlian yang ditawarkan.  Ada kompetensi keahlian akomodasi perhotelan, usaha perjalanan wisata, jasa boga, pastry, busana butik, kecantikan kulit dan kecantikan rambut. Di salah satu program kompetensi itu ada seorang perempuan kelahiran Kota Palu mengajar. Dia bahkan saat ini bukan hanya sekedar mengajar. Tapi juga dipercaya menduduki salah satu jabatan cukup penting di sana. Menjadi Wakil Kepala Sekolah Bidang Unit Produksi. Tat kala Mercusuar mendapatinya di ruangannya, ia langsung berdiri menyapa. ‘’Aduh, lama banget yah kita baru bertemu,’’ sambut wanita berkerudung kelahiran Palu, 31 Agustus 1971 ini. Hari itu dia tampil sangat chick dengan

Kesabaran di Balik Indahnya Chinese Painting

Gambar
          Menawan keindahan dalam sapuan lembut Terekam di atas kanvas putih Ketulusan, keikhlasan dan kesabaran Menantinya hingga selesa i S ajak pendek itu, menjadi ungkapan dalam menyaksikan lukisan-lukisan Chinese painting murid Madame Chiang yang berpameran dengan tema Piece of Life   di gedung Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) Jawa Barat, Jalan Teuku Umar No. 6 Bandung, sejak 16 September lalu hingga 31 Oktober 2012.   Mata seolah tidak bosan meniti satu persatu 50 lukisan yang tertata apik di tiga ruangan.  Dimulai dari lukisan chinese painting di atas kanvas berjudul Harvesting karya Alexandria Lily, menggambarkan kehidupan pertanian di desa yang tenang dan syahdu. Murid putri mendiang Madame Chiang, Teng Moe Yin yang lahir di Bandung ini memainkan warna-warna hijau, orange, kuning, biru dan putih untuk melukiskan kesejahteraan penduduk desa dengan air mengalir dan padi menguning. Gambaran yang sama dilukiskan oleh Bernadette atas karya Chinese pai